Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Viral Istriku Tanpa CD Demi Menggoda Temanku 1
Iklans.com - Kemarin, sekitar jam 8 malam aku mendapat telepon dari Bahar. Itu menurut Pak Roy yang kebetulan menerimanya. Bahar telepon lewat jalur sentral. Barangkali sebelumnya dia sudah mencoba telepon ke kamarku tapi tidak ada yang mengangkat.
Malam itu aku memang sedang keluar diajak Pak Gunawan nongkrong dan ngobrol-ngobrol di Boulevard pinggir laut. Pantas, aku agak gelisah waktu itu. Pak Gun sampai beberapa kali menegurku karena tak menyimak apa yang sedang diobrolkannya.
Ah! aku jadi merasa bersalah pada Bahar. Padahal itu adalah teleponnya yang kedua dalam dua minggu ini setelah telepon pertamanya yang ‘nakal’ itu (baca Oase 6). Aku tak ingin merasa bahwa sejak dekat dengan Pak Gunawan, aku seperti tak mengharapkan lagi telepon dari Bahar.
Malam itu sepulangku dari Boulevard, Pak Roy menyampaikan pesan telepon itu. Dan selanjutnya malam itu aku sengaja nongkrong di dekat telepon sambil baca-baca majalah. Baru sekitar pukul 10 telepon itu akhirnya berdering. Langsung kuangkat. Dan suara Bahar terdengar bersemangat di seberang sana.
“Apa kabar Mas?” sapanya hangat
“Baik. Abang gimana?” balasku
“Baik juga. Lumayan sibuk. Mas Har tadi sedang kemana?”
Aku agak tercekat. Tapi aku jawab apa adanya, bahwa aku diajak keluar Pak Gunawan, Kepala Mess, ke Boulevard. Bahar tidak bertanya lebih lanjut siapa itu Pak Gunawan. Kami lalu ngobrol ini dan itu, terutama mengenai pekerjaan kami masing-masing.
Di sela-sela pembicaraan di telepon itu, aku sempat terdiam beberapa kali. Bukan apa-apa, mendengar suara Bahar aku jadi merasa bersalah bila teringat bahwa saat ini aku tengah dekat dengan Pak Gun.
“Mas, sudah mau tidur ya?” tanya Bahar mencoba membaca sikapku
“Beluum. Aku sengaja kok nunggu telepon dari Bang Bahar”
“Kangen ya?” canda Bahar
“Ya!” kataku cepat, tapi kembali aku merasa bersalah. Meskipun saat itu aku memang benar-benar kangen sama dia.
Artikel Terkait
Beberapa kali Bahar mencoba mencandaiku dengan kata-katanya yang kocak, hangat dan kadang-kadang mesra.
“Bagaimana? kesepian nggak?” tanyanya
“Pake nanya lagi!” kataku merajuk
“Tahan nggak?”
“Nggaakk!” aku menjawab dengan nada kheki tapi sedikit becanda
“Abang sendiri gimana?” gantian aku yang bertanya
“Tergantung!” jawabnya seenaknya
“Tergantung apa?”
“Tergantung yang menggantung..”
“Hush! mulai deh..” Lanjut baca!

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...